Rabu, 04 September 2019

TEORI TINDAKAN KOMUNIKATIF Kritik atas Rasio Fungsionalis

TEORI TINDAKAN KOMUNIKATIF 
Kritik atas Rasio Fungsionalis

Penulis.           : Jurgen Habermas
Tebal.               : VI + 566
Ukuran buku.  : 155 x 240
Harga.              : Rp 95.000






Sebagai kelanjutan dari Teori Tindakan Komunikatif: Rasio dan Rasionalisasi Masyarakat, buku ini tidak lagi sekadar melakukan rekonstruksi historis terhadap teori-teori klasik tentang masyarakat, namun mengerucutkan analisisnya pada sebuah kesimpulan: modernitas telah gagal.
Kegagalan ini terjadi bukan karena rasionalisasi tidak bisa menjalankan fungsinya keterkaitan elemen kognitif-instrumental dengan elemen moral-praktis dan ekspresif dalam kehidupan, namun kegagalan lebih diakibatkan karena rasionalisasi tidak bisa mengembangkan dan  melembagakan seluruh dimensi rasio yang berbeda-beda secara apik. Ketidakhadiran institusi-institusi pelindung ruang privat dan ruang publik dari kolonisasi sistem administratif ekonomi-politik membuat interaksi-interaksi yang terstruktur secara komunikatif makin terpinggirkan. Serangan terhadap infrastruktur komunikatif masyarakat menyiratkan ancaman yang lebih besar ketimbang  ketergantungan pada negara-kesejahteraan kapitalisme maju. Karena dengan begitu, ranah tindakan komunikatif dijadikan sekadar instrumen yang melahirkan ketergantungan lebih parah. Makin besar desakan sistem menggempur ranah tindakan komunikatif, maka reproduksi kehidupan sosial pun akan semakin mandeg.
Habermas menawarkan Teori Tindakan Komunikatif dengan tujuan: pertama mengembangkan rasionalitas yang tak lagi berpijak pada premis-premis subjektif filsafat dan teori-teori sosial modern, sebab premis-premis inilah yang menyebabkan terjajahnya dunia-kehidupan oleh rasio-instrumental. Kedua, mengonstruksi konsep masyarakat dua-level yang mengintregasikan dunia-kehidupan dengan paradigma sistem yang tak lain merupakan paradigma anak kandung modernitas. Terakhir, memetakan sebuah Teori Kritis tentang modernitas dengan membahas patologi-patologinya tanpa harus menampik proyek Pencerahan. 
Itulah tawaran orasional Habermas, seorang pemikir  sosial utama Abad XX, yang dia paparkan dalam buku ini.

Senin, 24 Juni 2019

TEORI TINDAKAN KOMUNIKATIF Rasio dan Rasionalisasi Masyarakat

Penulis: Jurgen Habermas
Tebal: lii + 512
Ukuran Buku: 155 x 240
Harga: Rp 90.000





Modernitas perlu dikritik, karena membuat dunia-kehidupan terjajah. Kebebasan dan keadilan, kebahagiaan dan realisasi-diri yang dicita-citakan semakin menjauh, sementara manusia makin takluk oleh kuasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Anomi, alienasi, rancunya identitas dan rapuhnya eksistensi adalah bukti yang tak bisa dipungkiri. Parahnya lagi, tempat menggantungkan harapan nyaris tidak ada, sebab sumber daya kultural, sosial dan politik dalam keadaan mandeg disumbat oleh daulat birokrasi dan moneterisasi.
Dunia-kehidupan yang dirasionalisasi jadi lahan berkembangnya aturan-aturan yang lebih biadab dibandingkan kolonialisme politik. Ketika dunia-kehidupan dikelola oleh rasionalitas instrumental (instrumental rationality) dan diperantarai oleh sarana rasional-bertujuan (purposive-rational means) , reproduksi simbolis jadi mandul, intergrasi sosial dibikin luluh lantak oleh sistem. Saat pegangan hidup yang lebih hakiki lapuk tak berguna, segalanya terarah pada tujuan instrumental.
Mereka yang peka kemudian mengajukan tanya: Bagaimana upaya dekolonialisasi dunia-kehidupan yang terjajah oleh hal-hal di atas bisa dilakukan? Bagaimana membebaskannya dari "kerangkeng besi" modernitas? Bagaimana manusia penghuninya  bisa hidup dalam "terang" seperti yang dibayangkan Pencerahan?
Dengan caranya sendiri, Habermas berupaya menjawab pertanyaan ini secara teoretis. Langkah yang dia tempuh, pertama dan utama sekali, adalah mengenali apakah sesungguhnya ratio itu, bagaimana ragamnya, kemudian menyelidiki bagaimana proses rasionalisasinya masyarakat terjadi. Terakhir, dia mencoba menunjukkan rasio seperti apa yang bakal tidak menjadikan masyarakat sebagai koloni. Sebuah rasionalitas yang akan bekerja bagai seorang pengayom. 
Tak lain dan tak bukan, rasio komukatif-lah yang dia tunjukkan.


Selasa, 15 Januari 2019

PERADABAN BARAT Dari Revolusi Prancis Hingga Zaman Global


PERADABAN BARAT Dari Revolusi Prancis Hingga Zaman Global
Penulis: Marvin Perry
Tebal: XVIII + 458
Ukuran Buku: 15.5 x 24 cm
Harga: Rp 98.000



Bab satu buku tersebut mengungkapkan Era Revolusi Perancis. Dalam uraiannya bab ini mengulas Rezim Lama, kiprah sampai kejatuhan serta makna revolusi Perancis. Selanjutnya Bab 2 bicara tentang revolusi industri yang merupakan suatu bentuk transformasi masyarakat. Bab 3 bicara tentang pemikiran dan kebudayaan pada Awal abad kesembilan belas. Dalam uraiannya bab tersebut mengulas tentang romantisisme, idealisme jerman, konservatisme, liberalisme, serta nasionalisme. Bab 4 bicara tentang gelora nasionalisme dalam bentuk revolusi, kontrarevolusi, dan penyatuan. Bab 5 bicara tentang pemikiran dan kebudayaan pada pertengahan abad kesembilan belas, yang didominasi oleh realisme dan kritik sosial. Bab 6 bicara tentang eropa pada abad kesembilan belas akhir, dengan modernisasi, nasionalisme, imperialismenya yang mengemuka. Dalam uraiannya, antara lain mengulas munculnya Partai-partai Sosialis, munculnya nasionalisme rasial, munculnya imperilisme baru, dominasi Eropa Atas Asia, perebutan untuk Afrika, serta Warisan Imperialisme.                      
Selanjutnya Bab 7 bicara tentang kesadaran modern, yaitu berupa pandangan-pandangan baru atas alam, hakikat manusia, dan seni. Bab 8 bicara tentang Perang Dunia I yang mengekspresikan suatu kondisi peradaban Barat yang sedang putus asa. Selanjutnya Bab 9 buku ini membahas tentang Uni Soviet, antara modernisasi dan totalitarianisme. Bab 10 bicara tentang Era Fasisme yang merupakan serangan terhadap nalar dan kebebasan. Bab 11 buku ini membahas tentang Perang Dunia II dan selanjutnya buku ini ditutup pada bab 12 yang bicara munculnya zaman global.

Kamis, 01 November 2018

POSMODERNISME DAN BUDAYA POP (Cetak Ulang)

POSMODERNISME DAN BUDAYA POP
Penulis .            : Angela Mc Robbie
Penerjemah.     : Nurhadi
Ukuran buku. : 14.5 x 21
Tebal buku      :  X + 402
Harga.              : 75.000





Ada banyak kajian tentang budaya pop dan posmodernisme yang termuat dalam buku ini. Kajian tersebut mengungkap berbagai ragam isu menarik bagi para akademis dan orang-orang yang tertarik pada segala wacana posmodernisme dan budaya pop. Buku yang banyak membahas posmodernisme feminis ini secara lengkap terdiri dari tiga bagian.

Pada Bagian Pertama berbicara tentang Posmodernitas dan Cultural Studies (Posmodernitas dan Budaya Populer; Masa-Masa Baru dalam Cultural Studies; dan Feminisme, Posmodernisme dan "Aku yang Sejati"). Pada bagian kedua berbicara tentang Tokoh-tokoh Utama dalamTeori Budaya (Gaya Modernitas Susan Sontag; Passagenswerk dan Kedudukan Walter Benjamin dalam Cultural Studies; Strategi Waspada: Wawancara dengan Gayatri Cakravorty-Spivak). Sedang pada bagian Ketiga berbicara tentang pemuda, media, postmodernitas (Pakaian Bekas dan Peran Pasar Loak; Tutup Mulutmu dan Menarilah: Pemuda dan Perubahan Moda Feminitas; Subjektivitas Muda yang Lain: Menuju ke Sosiologi Budaya Pemuda; dan Kepanikan Moral di Era Media Massa Postmodern)

Rabu, 19 September 2018

Claude Lévy-Strauss Masa Strukturalisme dan Untuk Antropologi Umum (Buku Baru)


Claude Lévy-Strauss 
Masa Strukturalisme dan untuk Antropologi Umum
Penulis: BERNADETTE BUCHER DKK
Penerjemah:  NINIK ROCHANI MOEBIN
Tebal:  XVIII + 370
Ukuran:  14.5 x 21
Harga: 85.000



Buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama terdiri dari enam bab, yaitu: “Totemisme: Istilah dan Benda-bendanya” ditulis oleh Alfred Adler;  “Struktur, Transformasi Dan Morfogenesis Atau Strukturalisme Yang Diilustrasikan Oleh Pascal dan Poussin” ditulis oleh Lucien Scubla; Claude lévi-Strauss Dan Si Kelinci Kanada” ditulis oleh Ėric Schwimmer; “Tao-nya Antropologi: Analisa Struktural Dan Sana-sininya ‘Strukturalisme’” ditulis oleh Bernadette Bucher; “Disolusi Sugjek Dalam ‘Final’nya ‘Manusia Telanjang ‘ ditulis oleh Frederic Keck; dan “Dari Mitos Ke Cerita Dari Sisi Kisah Tentang Lynx” ditulis oleh 
Nicole Belmont.

Bagian kedua, Untuk Antropologi Umum, terdiri dari tujuh bab: “Pestanya Orang Lain” ditulis oleh Michel Cartry; “Dua Sifat Dasar Lévi-Strauss” ditulis oleh Philippe Descola; “Identitas Atau Sarang Virtual” ditulis oleh Gérard Lenclud; “Pandangan Dari Jauh: Lévi-Strauss Dan Sejarah” ditulis oleh François Hartog; “Pengaruh Kuat Refleksi Lévi-Strauss Dan Masalah Relativisme” ditulis oleh Denis Kambouchner; “Jalan Ketidaksadaran” ditulis oleh Boris Weisman; dan “Pemikiran Yang Diobjektifkan” yang ditulis oleh 
Klaus Hamberger.  





Selasa, 18 September 2018

MITOLOGI (Cetak Ulang)

Penulis: Roland Barthes
Penerjemah: Inyak Ridwan M
Tebal: XVI + 244
Ukuran: 14.5 x 21
Harga: 65.000



DI DALAM sinetron-sinetron, tokoh berkacamata diasosiasikan dengan orang yang jenius tapi lugu, lebih banyak hidup dengan buku tapi sering kerepotan menjalani pergaulan di dunia nyata sehari-hari, mampu menjawab soal ujian dengan baik tapi gugup setengah mati ketika dibawa ke tempat hiburan malam. Di sini kacamata menandakan kelebihan.
     Namun jika dipikir-pikir benar arti dasar dari kacamata, sebetulnya benda ini lebih berkaitan dengan cacat indera penglihatan yang tidak cuma disebabkan keseringan membaca buku. Di sini kacamata adalah tanda dari kekurangan.
     Sebagai sebuah tanda (sign)  di semesta bahasa, pengertian kacamata adalah alat bantu bagi orang yang penglihatannya sudah cacat. Sebagai sebuah penandaan (signification) di semesta mitos, pengertian itu dibelokkan dan dinaturalkan menjadi lambang kecerdasan. Mitos memaksa orang untuk menerima makna kacamata yang sudah dibelokkan ini sebagai sesuatu yang memang seharusnya begitu. Manakala kacamata diterima sebagai sesuatu yang hanya menandakan kejeniusan, saat itulah kacamata telah dimitoskan.
     Di atas adalah salah satu ilustrasi dari tiga cara membaca mitos yang dikemukakan Roland Barthes di buku ini. Lebih sekadar memaparkan cara-cara membaca mitos secara semiologis, dia juga mendedahkan contoh-contoh mitos yang bertebaran di tengah kehidupan modern abad 20. Bertolak dari kasus-kasus faktual dan diakhiridengan penjelasan teoritis dalam melihat mitos, Roland Barthes secara padat dan singkat menyatakan mitos sebagai sebuah tipe wicara, dan oleh karena itu mitos sebenarnya adalah salah satu dari sekian banyak cara menyampaikan pesan.
     Karya ini terjadi buku standar studi semiologi karena dia tidak berpretensi menentukan mana mitos yang "baik dan benar" dan mana yang tidak, akan tetapi menjelaskan bagaimana cara kerja mitos itu sendiri sebagai sesuatu yang netral. Dan yang lebih penting lagi, dia menjelaskan apa saja yang dapat jadi mitos dan kenapa.



Sabtu, 21 Juli 2018

TEORI KRITIS JÜRGEN HABERMAS (Cetak Ulang)


TEORI KRITIS JÜRGEN HABERMAS Penulis : Thomas McCarthy
Tebal : xiv + 554
Ukuran Buku : 15.5 x 24 cm
Harga : Rp 120.000,-


 Jurgen Habermas ingin agar suatu teori tidak hanya sekadar menjelaskan hal-ikhwal sedemikian rupa. Juga, menurut Habermas, seorang teoritis seharusnya tidak sekadar merenung di perpustakaan lalu memberi saran penyelesaian masalah lewat publikasi tulisan. Hal terpenting yang luput dari cara seperti itu, menurut dia, adalah sisi praxis kehidupan.
      Sayangnya, bagi Habermas, ilmu pengetahuan beserta teori-teorinya sudah terlanjur berada di menara gading dan ketika dilibatkan dalam praktik kehidupan sehari-hari, manusia malah terkurung oleh belitan rasionalitas yang menjadi landasan teori-teori tersebut. Mereka dibius oleh sebuah daya yang menempatkan tujuan di atas segala-galanya dan dibikin percaya bahwa yang mesti diusahakan adalah sarana dan cara mencapai yang seampuh-ampuhnya. Dan itu bernama rasionalitas bertujuan, ibu kandung dari teknologi yang sifatnya ideologis.          Memprihatinkan memang, dan itulah sebabnya Habermas mengidealkan suatu kondisi di mana manusia tak saling sikut dan gencet demi kepentingan dan tujuan instrumental masing-masing. Dia membayangkan masyarakat komunikatif  tempat perbedaan kepentingan dibicarakan lewat cara-cara yang elegan dan tak menutup ruang gerak masing-masing pihak. Itu semua bisa berlangsung di ruang publik yang terbuka dan steril dari tekanan ideologi yang hanya meniupkan angin surga.
        Agar kondisi itu terwujud, Habermas memeriksa syarat kemungkinan bagi sebuah teori yang merangkul sisi praxis, dia tidak mau teori tersebut mengandung ideologi yang memukau manusia, dan yang paling penting, teori tersebut mesti mengkritisi dirinya terlebih dahulu sebelum mengarahkan pisau analisanya kepada objek.                    Tidakkah pendapat ini dilandaskan Habermas pada suatu sikap kritis, dan Teori Kritis yang diajukannya adalah teori yang selalu ingin mawasdiri?
       Buku ini ingin menunjukkan secara detail bahwa memang demikianlah Habermas dengan teori kritisnya.

MASYARAKAT KONSUMSI (Cetak Ulang)


Masyarakat Konsumsi

  Penulis: Jean Baudrillard

 Pengantar: George Ritzer

Tebal buku: Lii + 284

Ukuran buku: 15,5 x 24 cm

 Harga : Rp 70.000,-



SEKARANG ini adalah era di mana orang membeli barang bukan karena nilai kemanfaatannya namun karena gaya (hidup), demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi, tayangan sinetron, acara infotainment, ajeng kompetisi para calon bintang, gaya hidup selebriti, dsb. Yang ditawarkan iklan bukanlah nilai guna suatu barang, tapi citra dan gaya bagi pemakainya Tidak penting apakah barang itu berguna atau tidak, diperlukan atau tidak oleh konsumen. Karena itu yang kita konsumsi adalah makna yang dilekatkan pada barang itu, sehigga kita tidak pernah mampu memenuhi kebutuhan kita. Kita menjadi tak pernah terpuaskan. Kita lalu menjadi pemboros agung, mengonsumsi tanpa henti, rakus dan serakah. Konsumsi yang kita lakukan justru menghasilkan ketidakpuasan Kita menjadi teralienasi karena perilaku konsumsi kita. Pada gilirannya ini menghasilkan kesadaran palsu. Seakan-akan terpuaskan padahal kekurangan, seakan-akan makmur padahal miskin.    
Kita tidak sedang hidup dalam masyarakat yang berkecukupan tapi Dalam masyarakat pertumbuhan. Yang namanya ideology pertumbuhan selalu Menghasilkan dua hal, kemakmuran dan kemiskinan Makmur bagi yang diuntungkan dan miskin bagi yang terpinggirkan. Kenyataannya, pertumbuhan adalah alat untuk membatasi ruang gerak orang-orang miskin. Karena itulah ideologi ini sengaja dilanggarkan untuk menjaga sistem. Pertumbuhan adalah fungsi kemiskinan, kata Baudrillard. Pertentangan yang ada di dalamnya mengarah kepada kemiskinan psikologis dan kefakiran sistematis karena “kebutuhan” akan selalu melampaui produksi barang.
Karena permasalahannya terletak pada hubungan sosial atau dalam logika sosial (ingat, kita bukan hanya mengonsumsi barang, namun juga jasa manusia dan hubungan antar manusia), ini tidak akan dapat dipecahkan oleh peningkatan produksi, dengan inovasi kekuatan produksi, atau dengan apa yang biasanya kita pandang sebagai peningkatan daya beli Satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah ini terletak pada perubahan dalam hubungan sosial dan dalam logika sosial. Kita memerlukan suatu logika sosial yang membawa bersamanya banyak pertukaran simbolik, bukan nilai tukar.



Selasa, 10 Juli 2018

KONSTELASI PASKA-BANGSA Esai-Esai Politik (BUKU BARU)

Penulis             : Jurgen Habermas
Tebal                 : xxx + 290 halaman
Ukuran Buku.  : 14,5 x 21 cm
Harga                : Rp. 60.000,-




Untuk bisa mengikuti argumen-argumen yang disajikan di buku Konstelasi Paska-Bangsa ini tidak mensyaratkan kita punya keahlian khusus di dalam teori-teori Habermas. Fakta dalam buku ini tentunya dapat menjelaskan fokus utama Habermas selama ini terhadap 'basis-basis legitimasi' proses-proses demokrasi. Ini juga melandasi perhatiannya yang tak tergoyahkan terhadap hubungan yang tidak stabil antara proses demokrasi dan 'bangsa', yang dipahaminya sebagai bentuk pra-politik kerja sama kolektif didasarkan pada kategori-kategori organik bahasa, sejarah bersama, dan budaya masyarakat.

Esai pertama di buku ini menganalisa aspek-aspek intelektual dari Vormärz (yaitu periode di sejarah bangsa Jerman dari tahun 1815 hingga gagalnya revolusi kaum republik di bulan Maret 1848). Esai kedua, 'Tentang Penggunaan Sejarah oleh Publik' berisi pembelaan kontroversial Habermas terhadap karya Daniel Goldagen, Hitler's Willing Executioners. Tiga esai berikutnya mengaplikasikan pemikiran Habermas tentang Konstelasi Paska-Bangsa bagi situasi dunia konteporer. Esai ketiga, 'Belajar dari Bencana?'. Esai keempat, 'Konstelasi Paska-Bangsa dan Masa Depan Demokrasi ', yang merupakan esai inti dari buku ini, Esai kelima, 'Catatan-catatan tentang Legitimasi melalui HAM', menyediakan penyuaraan terbaik tentang argumen-argumen dasar di buku ini. Esai keenam, 'Konsep-konsep tentang Modernitas', menyediakan kajian ringkas dan menyeluruh Habermas tentang konsep rasionalitas dan rasio di dalam filsafat dan sosiologi modern. Esai ketujuh tentang Marcuse menegaskan posisi Habermas bahwa proyek rasionalitas yang melahirkan modernitas masih belum berakhir. Di esai terakhir Habermas mengangkat salah satu isu besar di masa depan yang akan menerpa kosmopolitanisme universal ini, yaitu etika dari pengkloningan manusia, memperlihatkan pandangan Habermas bahwa pada akhirnya, intuisi-intuisi moral kita tetap harus bisa terus bekerja sama dengan perubahan-perubahan teknologi.




Jumat, 16 Maret 2018

Modal Sosial (Cetak Ulang)

modal sos jpg.jpg

Penulis            : John Field
Tebal               viii + 272 halaman
Ukuran Buku   : 14,5  21 cm
Harga              : Rp 60.000,-


Buku ini menawarkan pengantar bagi perdebatan tentang modal sosial dan mengusulkan cara bagaimana melanjutkan diskusi ini di masa depan. Perdebatan ini dalam beberapa hal sulit diringkas, karena ia melintasi berbagai disiplin keilmuan. Kendati berkembang di bidang sosiologi, konsep ini banyak didiskusikan oleh ekonom dan ilmuwan politik, dan menarik perhatian di kalangan sejarawan, pendidik dan feminis maupun spesialis dalam kebijakan sosial dan kebijakan kota. Para pembuat kebijakan pun menunjukkan minat pada modal sosial, karena dipandang mampu memberikan pertimbangan seputar kebijakan-kebijakan yang akan diambil dalam pembangunan ekonomi, perbaikan kesehatan, perkembangan teknologi dan inovasi bisnis, pengurangan kemiskinan, inklusi sosial dan pengurangan kejahatan.
Secara khusus di sini diulas gagasan Pierre Bourdieu, James Coleman dan Robert Putnam menyangkut kuasa jaringan. Tidak ketinggalan pula tinjauan-tinjauan atas studi empiris tentang dampak modal sosial pada bidang-bidang pendidikan, kesehatan dan kejahatan. Karena sebagian besar tinjauan ini memperlihatkan pengaruh positif modal sosial, maka sebagai pengimbang, buku ini juga akan memaparkan sisi gelap modal sosial, dan membahas bukti-bukti penelitian terkait dengan dampak negatif ini. Sumbangan terpenting buku ini terletak pada paparannya tentang kecenderungan mutakhir untuk membangun kembali modal sosial sebagai salah satu aset terpenting dalam kehidupan bermasyarakat.

Selasa, 23 Januari 2018

Cultural Studies (Cetak Ulang)


Penulis: Chris Barker
Tebal: xxvi + 470
Ukuran Buku: 155 240 cm
Harga : 125.000



Meskipun studi tentang kebudayaan telah berlangsung di berbagai disiplin akademis sosiologi, antropologi, sastra, dll dan meliputi konteks ruang geografis maupun institusional, namun ia bukanlah cultural stu­dies. Cultural studies adalah suatu arena interdisipliner di mana perspektif dari di­siplin yang berlainan secara selektif dapat diambil dalam rangka menguji hubungan antara kebudayaan dan kekuasaan, kebutuhan akan perubahan dan representasi atas kelompok-kelompok sosial yang terpinggirkan, khu­susnya kelas, gender dan ras (namun juga termasuk umur, kecacatan, nasionalitas, dll). Dengan demikian, cultural studies adalah satu teori yang dibangun oleh pa­­ra pemikir yang memandang produksi pengetahuan teoretis sebagai praktik politik. Di sini, pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif, melainkan soal posisionalitas, soal dari mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa.
Cultural studies tidak bisa membicarakan satu mazhab teori saja, dan ia tidak cukup dibicarakan hanya oleh satu mazhab. Terlebih lagi subjek kajiannya melintasi benua, negara, suku bangsa, golongan, kelas, kelompok, umur, jenis kelamin, ideologi, kekuasaan dll., melintasi ruang-waktu dan fenomena-fenomena budaya lainnya yang mungkin sangat spesifik di suatu wilayah dan atau berlaku pada kurun waktu tertentu saja. Subjek-subjek ini sudah sejak lama menjadi wilayah disiplin ilmu-ilmu lain. Oleh karena itu cultural studies selalu merupakan bidang penelitian yang multi- dan post-disipliner.
Arena institusional utama bagi cultural studies adalah perguruan tinggi, dan de­ngan demikian cultural studies menjadi seperti disiplin akademis lain. Na­mun, dia mencoba membangun hubungan di luar institusi akademis, seperti dengan gerakan so­sial dan gerakan politik, para pekerja dalam institusi-institusi budaya, dan ma­najemen budaya. Dalam buku ini dibahas berbagai fenomena budaya kontemporer seperti budaya televisi, sinetron, politisasi atas berita dunia, gaya rock, gaya punk, musik rap, musik pop, kerusuhan di kota-kota besar, budaya dan perilaku para imigran, pemusatan kepemilikan media, isu gender, globalisasi, multikulturalisme, dsb.

Buku ini banyak mengetengahkan karya cultural studies yang tengah berkembang di Inggris, Amerika Serikat, Eropa Kontinental dan Australia, serta sedikit cultural studies yang berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin, dengan eksplorasi teori dan referensi yang sangat kaya.

Selasa, 26 Desember 2017

GAJAHMADA & KASULTANAN MAJAPAHIT

GAJAHMADA & KASULTANAN MAJAPAHIT

Tebal xii + 496
Ukuran buku: 14,5 x 21 cm
Harga: 91.000
Penulis: Ki H. Ashad Kusuma Djaya
Epilog: DR.IMAM QULYUBI,S.S., M. Hum

Penulisan Gaj Ahmada yang dikatakan berasal dari buku Kasultanan Majapahit adalah kebohongan yang diviralkan, sebab tidak ada istilah yang menyalahi kaidah bahasa jawa Kawi itu di buku tersebut. Kajian Gajahmada (jika dipisah sesuai hukum Garba dalam bahasa jawa Kawi menjadi Gajah Ahmada) dibahas secara lengkap pada pada bab 18 buku karya Ki H. Ashad Kusuma Djaya ini.


Buku yang terdiri 24 bab ini juga mengungkap bahwa Majapahit adalah kerajaan besar yamg sangat memperhatikan rakyatnya. Raja mengangkat siwadyaksa (dharmadyaksa kasaiwan) sebagai pejabat yang bertanggung jawab pada kemakmuran negeri. Selain itu, Raja juga mengangkat dharmadyaksa kasogatan sebagai pejabat yang bertanggung jawab pada urusan pengkajian atau pendidikan rakyat. Berbagai candi didirikan, salah satunya sebagai media kasogatan (pengajaran). Undang-undang Kutara Manawa yang digunakan pada masa Majapahit 70% mirip syariat Islam, antara lain hukum mati bagi pembunuh yang mirip qishas dan potong tangan untuk pencuri.

Sumber yang banyak digunakan untuk penulisan sejarah Majapahit selama ini adalah Kitab Nagara Krtagama. Dan dalam buku ini penulis membuktikan bahwa manuskrip tersebut adalah manual bagi penyelenggaraan Kasultanan di Nuswantara dengan menjadikan Majapahit sebagai modelnya. Kitab Nagara Kertagama ditulis “Untuk menjadi pujian di bawah naungan yang mulia Giri Natha” (Pupuh 94/1). Adapun yang dimaksud Giri Natha dalam Kitab Nagara Krtagama itu tidak lain adalah Sunan Giri Prapen. Dalam Pupuh 37/2 kita tahu dialah yang memiliki prasada (istana/kedhaton) menjulang tinggi “Iwir meru parwwata” yang artinya “bagaikan gunung meru (pusatnya dunia)”. Kata “siwa” dalam bahasa sansekerta berarti kesejahteraan atau kemakmuran, maka “siwapratista siwawimbha munggwi ri dalm” berarti istana Giri Natha menjadi “sumber kesejahteraan pembuka kemakmuran membangkitkan yang tinggal dalam kerajaan”. sotan bhatara girinatha putra pinakesti dewa sakala (Karena itu Giri Natha dimuliakan bagaikan keturunan dewa di alam nyata); Angehniran tuhatuha narendra khinabhaktyan i sabhuwana (Adalah beliau yang dituakan para raja seluruh negeri berbakti padanya).

Dengan menitikberatkan pada kajian Manuskrip dan Prasasti, Penulis buku ini mengajak pembaca memahami kembali makna gelar raja Majapahit, simbolisasi arca di bangunan candi, kitab undang-undang kerajaan Majapahit, berbagai prasasti masa Majapahit, tentang bahasa sansekerta dan prakerta, serta manuskrip yang berhubungan dengan Majapahit, terutama kitab Nagara Krtagama. Buku ini dilengkapi dengan lampiran transkrip versi DR TH. Pigeaud (terbit 1960), deskripsi Kutara Manawa oleh DR J. Brandes (lampiran 2), pembahasan candra sengkala dalam nagara Krtagama yang mengungkap tahun penulisan sesungguhnya (lampiran 3), dan pembahasan singkat seputar naskah-naskah Lombok (lampiran 4).

Senin, 08 Mei 2017

POS MADILOG (POST MATERIALISME DIALEKTIKA DAN LOGIKA) Buku Baru


Tebal.               : viii + 240
Ukuran Buku : 14.5 x 21 cm
Harga.             : 50.000
Penulis.           : Ki H. Ashad Kusuma Djaya








Buku ini saya rekomendasikan bisa menjadi buku pegangan bagi kajian filsafat ilmu di kampus-kampus di indonesia, melalui kajian post-materialisme, penulis mengajak memposisikan materi secara tepat dan bagaimana suatu sudut pandang terhadap perubahan yang seharusnya dijalankan. dalam kajian dialektika, penulis dengan cermat menguraikan tiga bentuk keterhubungan dialektis dan menolak pandangan dialektis yang hanya memberi ruang bagi pertemuan tesis, antitesis dan sintesis. sementara dalam kajian logika, penulis menguraikan beberapa konsep logika formal, logika kritis, dan logika integratif. sebagai kajian filfasat ilmu, buku ini pun melengkapinya dengan menyampaikan bahasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi post-madilog.
(dr suprojo tamtomo)


dalam konteks sekarang, pengembangan ilmu pengetahuan bukan sekedar mengubah alam berpikir tradisional menuju alam berpikir modern, sebagaimana berlangsung pada masa kehidupan tan malaka. salah satu akibat langsung dari globalisasi yang menimpa kehidupan sosial kita adalah munculnya tatanan sosial yang oleh giddens disebut sebagai post-tradisional. tatanan post-tradisional bukanlah tatanan yang tradisinya lenyap, tetapi merupakan tatanan yang tradisinya berubah status.  tradisi harus menjelaskan dirinya sendiri, menjadi terbuka untuk diselidiki dan diwacanakan.

kajian post-madilog tidak sekedar melakukan lacak jejak sejarah keilmuan, namun menawarkan paradigma keilmuan berbasis pada pandangan hidup sistem yang selaras dengan dasar kehidupan kebangsaan kita. kemandegan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak adanya benang merah antara pengembangan ilmu pengetahuan dengan dasar-dasar kehidupan berbangsa kita menunjukkan ada yang harus dibenahi dalam kajian filsafat ilmu kita selama ini.

Rabu, 12 April 2017

SOEKARNO PEREMPUAN & REVOLUSI (Cetak Ulang)

Tebal.              : vi + 310
Ukuran Buku : 14,5 x 21 cm
Harga.             : 50.000
Penulis.           : Ashad Kusuma Djaya



      Sudah banyak buku yang mengungkap biografi politik Soekarno. Buku ini tidak hanya bicara perjalanan politik, tetapi juga mengungkap perjalanan intelektual Soekarno. Sang Proklamator tersebut bukan hanya negarawan yang politikus, tetapi juga pemikir ulung yang gagasannya memberi inspirasi dan menjadi dasar lahirnya Indonesia.                                            
      Perempuan dan revolusi, dua hal melekat dalam perjalanan politik dan intelektual Soekarno. Memang dua hal itu sering manjadi sumber kritik dalam kehidupan politik Soekarno. Namun jika kita menyimak perjalanan hidupnya, dua hal itu pula yang banyak membakar semangat politik dan intelektual Soekarno.
     Membaca ulang perjalanan politik dan intelektual Soekarno adalah mengungkap langkah dan gagasan besar seorang tokoh dunia yang pernah memimpin negeri ini. Buku ini didedikasikan buat calon-calon pemimpin Indonesia dan dunia. Agar bisa belajar dari jasa dan kesalahan Soekarno.

Rabu, 22 Maret 2017

TEORI SEMIOTIKA (Cetak Ulang)

Tebal.               : x + 530
Ukuran Buku : 15.5 x 24 cm
Harga.             : 110.000
Penulis.           : Umberto Eco







       Buku ini bermaksud menggali kemungkinan teoretis suatu pendekatan terpadu terhadap setiap fenomena signifikasi dan/atau komunikasi yang berlangsung antarmanusia. Lebih penting lagi, dia juga ingin menelisik fungsi-fungsi sosial seperti apa yang bisa dimainkan pendekatan tersebut.        
       Ketika manusia tak bisa lepas dari jejaring tanda, yang diperlukan bukan hanya sekadar kemampuan untuk memahami, karena pemahamannya yang tidak didasarkan pada pemetaan sistem dan cara kerja hubungan kode-kode yang melandasi setiap fungsi-tanda akan tersasar ketengah labirin pemahaman subjektif.     
       Itulah sebabnya mengapa setelah membahas teori kode, buku ini menjelaskan teori produksi-tanda yang menyoroti berbagai fenomena semisal pemakaian bahasa sehari-hari, evolusi kode, komunikasi estetis, berbagai jenis perilaku komunikasi interaktif, pemakaian tanda untuk menyebutkan suatu benda atau keadaan, sampai dwngan rahasia semiotis yang ada dibalik ideologi.

      Teori kode dan teori Produksi-tanda inilah yang menjadi unsur utama pendekatan terpadu yang akan ditawarkan buku Teori Semiotika karya Umberto Eco kepada Anda.

Kamis, 16 Maret 2017

Konsekuensi-konsekuensi Modernitas (cetak ulang)

Tebal                : xii + 248
Ukuran Buku.  : 14.5 x 21 cm
Harga               : 55.000
Penulis.            : Anthony Giddens








Melalui buku ini Anthony Giddens mengkaji seluk beluk modernitas dan konsekuen-konsekuensinya. Dalam masyarakat industrial, namun pada batas-batas tertentu di dunia ini secara keseluruhan, kita telah memasuki satu modernitas tingkat tinggi, yang terlepas dari ikatan terhadap keyakinan akan tradisi dan terhadap yang telah lama dikenal dengan "titik pengamatan" (baik bagi yang berada "di luat" maupun "di dalam" dan bagi yang lain)-dominasi Barat. Meski penemunya berusaha menemukan kepastian untuk menggantikan dogma-dogma yang telah ada sebelumnya, namun modernitas secara efektif melibatkan institusional keraguan. Semua klaim pengetahuan, pada zaman modern, pada dasarnya bersifat sirkuler, meski "sirkuralitas" ini memiliki konotasi berbeda dalam ilmu alam bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial.


Menurut Giddens, modernitas sebenarnya bberorientasi ke masa depan, sehingga "masa depan" memiliki status sebagai model yang kontrafaktual. Meskipun ada alasan lain mengapa hal itu dilakukan.ini adalah satu faktor  yang dijadikannya landasan untuk meletakkan realisme utopis. Antisipasi masa depan menjadi bagian dari masa kini, sehingga terpulang kepada bagaimana masa depan sebenarnya berkembang; realisme utopis mengombinasikan "pembukaan jendela" bagi masa depan dengan analisis kecenderungan institusional yang terus berlanjut di mana masa depan politis menjadi imanen dalam kehadirannya. Dengan membahas hubungan antara modernitas dengan transformasi ruang dan wakti secara mendalam, Giddens memulai kajian buku buku ini.

Rabu, 01 Februari 2017

PERADABAN BARAT Dari Zaman Kuno Sampai Zaman Pencerahan (Cetak Ulang)

Tebal.                : xx + 420 halaman
Ukuran Buku  : 15,5 x 24 cm
Harga               :  75.000
Penulis.            : Marvin Perry







Bab satu ini bicara Peradaban-Peradaban Pertama. Dalam uraiannya bab ini mengulas tentang Zaman Prasejarah, Munculnya Peradaban Mesopotamia, Peradaban Mesir, dan sebagainya. Bab dua membahas Bangsa Ibrani yang membawa pandangan baru atas Tuhan dan Individu. Bab tiga membahas tentang orang Yunani. Dalam uraiannya bab ini mengulas Evolusi Negara Kota , Zaman Hellenik, Zaman Hellenistik (Tahap Kedua Peradban Yunani), serta Prestasi Yunani (akal budi, Kebebasan, Humaniame). Bab empat membahas tentang Roma, Dari Negara-Kota menjadi Kekaisaran Dunia. Dalam uraiannya bab ini mengulas Evolusi Konstitusi Roma, Ekspansi Roma, Kebudyaan, Fondasi Kekaisaran Romawi, Keruntuhan serta Warisan Romawi, dan lainnya. Bab lima bicara tentang Agama Kristen yang Mendunia. Dalam uraiannya bab ini mengulas Asal-mula Agama Kristen. Penyebaran serta Pertumbuhan Organisasi Kristen.  
      
Bab enam bicara Munculnya Eropa. Dalam urainnya bab ini mengulas antara lain, Masyarakat Feodal, Munculnya Negara, Pertumbuhan Kekuasaan Paus, serta Orang Kristen dan Yahudi, dan bahasa lainnya. Bab tujuh membahas tentang mekarnya Peradaban Zaman Pertengahan (Sintesis Kristen). Dalam urainnya bab ini mengulas Bangkitnya Pengetahuan, Pandangan-Dunia Zaman Pertengahan Mundurnya Kepausan, serta Kesinambungan dan Keterputusanantara Zaman Pertengahan dan Dunia Modern.

Bab delapan bicara tentang Cara Pandang Renaisans.Hubungam Renaisans dan Zaman Modern, Latar Belakang Reformasi Geteja Zaman Petengahan, Reformasi dan Zaman Modern, serta bahasan lain. Bab sembilan bicara tentang, Transformasi Politik dan Ekonomis (Negara Bangsa, Ekspanai luar negeri, Revolusi Harga). Dalam urainnya bab ini mengulas Pandangan Baru atas Alam, Sintesis Newtonian, Arti penting Revolusi Ilmiah, Pemikiran Politik. Pemikiran Sosial, Pemikiran Ekonomi, Pencerahan Tinggi, Perang dan Revolusi serta Politik, dan lain-lain.                            

Kamis, 15 Desember 2016

ARENA PRODUKSI KULTURAL (CETAK ULANG)

 
Tebal : lii + 396 halaman.
Ukuran Buku : 15,5 x 24 cm 
Harga : Rp 85.000,-
Penulis: Pierre Bourdieu







Arena Produksi Kultural mempersembahkan tulisan-tulisan terpenting Bourdieu seputar kebudayaan, terutama yang terkait dengan seni, sastra, estetika serta posisi intelektual dan budayamawa dalam kehidupan sosial.       
     Di sini Bourdieu mengembangkan pendekatan yang benar-benar orisinal terhadap kajian sastra dan karya-karya seni lain. Dia membahas masalah-masalah kunci yang mengisis ruang perdebatan sastra, seni dan kritik kebudayaan di penghujung abad xx: nilai estetis dan penilaian, konteks sosial praktik kultural, peran intelektual dan seniaman, serta struktur otoritas kesusastraan dan kesenian.    
      Bourdieu membangun sebuah teori arena kultural yang menempatkan karya seni di dalam kondisi-kondisi sosial produksi, sirkulasi dan konsumsinya. Dia mengkaji individu dan lembaga apa saja yang berperan dalam menjadikan karya kultural sebagai produk kultural: bukan hanya penulis dan seniman, tapi juga penerbit, kritikus, deler, galeri dan akademi-akademi. Dia menganalisis struktur arena kultural maupun posisi arena ini di dalam struktur kekuasaan yang terdapat di ranah sosial yang lebih luas.   Esai-esai yang termuat di sini mengkaji topik-topik yang beragam, mulai dari sudut pandang Flaubert dalam menulis novel, revolusi estetika yang dilancarkan Manet di dunia seni lukis, latar historis kemunculan tatapan murni (pure gaze) dalam mengapresiasi karya seni, sera yang paling penting, hubungan seni dengan kekuasaan.    
     Arena Produksi Kultural patut sekali dikonsumsi mahasiswa dan ilmuwan dari berbagai disiplin: sosiologi dan teori sosial, sastra, seni serta kajian budaya.


Jumat, 21 Oktober 2016

Membaca Pikiran Pierre Bourdieu (Edisi Revisi)


Penulis: Richard Jenkins
Tebal : vi + 298 halaman.
Ukuran Buku 14,5 x 21 cm
Harga : Rp 60.000,- 



Biasa jadi terdapat sedikit keragaman akan arti penting kontribusi Bourdieu dalam sosiologi dan antropologi sosial. Dengan meninggalkan Althuser. Barthes dan Foucoult, melebihi figure lain semisal Boudon Touraine, dia tampil untuk menunjukkan nilai dan vitalitas yang terus berlanjut dalam tradisi intelektual ilmu sosial Prancis. Dengan membangun ruang politis dan teoritis di luar Marx, Weber san Durkheim, strukturalisme dan interaksionisme, determinisme pesimistis dan keyakinan selebratoris dalam meningkatkan potensi kreasi praktik kehidupan manusia, dia muncul sebagai sumber heterodoks dan menarik bagi inspirasi teori sosial pada era 1990-an.

Terdapat sejumlah alasan yang lebih spesifik mengapa pengkajian karaya Bourdieu begitu penting. Pertama, dia memberikan kontribusi utama dalam debat tentang hubungan antara struktur dan tindakansebagai satu pertanyaan kunci bagi teori sosial yang muncul lagi pada akhir era 1970-an dan awal 1980-an. Kedua, dibandingkan dengan Anthony Giddens, misalnya, kontribusi tersebut secara konsisten telah dikerangkakan oleh kombinasi kerja empiris sistemati apakah mendasarkan lagi pada emografi atau pendekatan survai sosial dengan teorisasi reflektif. Tarik menarik: ‘teori tanpa penelitian empiris adalah hampa, penelitian empiris tanpa teori buta’

Adapun alasan ketiga, mungkin sebagai konsekuensinya dari fakta bahwa Bourdieu telah menjadi seseorang peneliti masalah sosial yang begitu aktif. Pertanyaan epistemologinya tentang inti kelayakan ilmu pengetahuan sosial dan syarat memungkinkan hal ini menjadi isu sentral dalam proyeknya. Hal-hal tersebut merupakan pertanyaan telah membuat banyak sisiolog dan antropolog apakah mereka menyebut dirinya sebagai ‘teoritikus’ atau ‘peneliti’ kehabisan akal.