Tampilkan postingan dengan label Spiritualitas dan Budaya Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritualitas dan Budaya Jawa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2016

Kesatuan Teologi dan Ilmu Pengetahuan





Penulis :John Polkinghorne
Tebal : xvi + 164 halaman.
Ukuran Buku : 14,5  21 cm
Harga : Rp 40.000,- 







Sebagai sosok seorang pendeta yang kepiawaiannya di bidang fisika dikagumi orang, Polkinghorne, tentunya mempunyai hipotesis bahwa postenlightment akan terjadi melalui bersatunya IPTEK dengan agama. Sebelum IPTEK muncul agama itulah yang dikenal oleh kaum pendeta dan kyai, meskipun mereka gagal memperlihatkan dalam hal apa agama bisa dipandang sebagai enlightment pada waktu ini. Karena itu dia berusaha memperlihatkan keniscayaan bagaimana mu’jizat 
itu bisa terjadi.


Selanjutnya pada Bab II dan III Polkinghorne berbicara mengenal the nature of science dan the nature of theology. Di Bab III dia tidak langsung membahas hubungan atau interaksi itu, melainkan berbicara mengenai the nature of the physical world. Pada Bab IV baru dia membahas mengenai points of interaction. Pada Bab V dia mencoba mendemonstrasikan bahwa kontradiksi itu akan lenyap atau melunak, kalau kita berhasil meningkatkan the level of description, the higher meaning, atau dalam bahasa kaum sufi meningkatkan maqam kesadaran.  






   

Senin, 25 Juli 2016

JIWA SUCI DAN SAKRALITAS



Penulis: Annemarie Scimmel
Tebal:  128 Halaman
Ukuran: 14,5 x 21 cm
Harga: 40.000


Anne Marie Schimmel menyebut tasawuf sebagai media aktualisasi manusia yang paling ideal. Meskipun di banyak sisi, tasawuf dituduh sebagai 'pembunuh otoritas akal', namun di sisi yang lain, keberhasilannya membangun kepribadian manusia serta ide-idenya tentang cinta kasih, perdamaian, kesederhanaan, penyucian jiwa dan solidaritas memberi andil yang tidak sedikit dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Buku ini adalah kumpulan “ceramah” Annemarie Schimmel yang terserak di beberapa terbitan, yang berbicara tentang dimensi sakralitas dan penyucian jiwa dalam Islam. Sebagai seorang ilmuwan, tentu saja ia tidak sedang menghadirkan diri sebagai pembawa ajaran tasawuf. Objektivitas akademisnya mengajak pembaca untuk mengambil hikmah, sebuah pelajaran, dari berbagai fakta yang ia temukan dalam praktik tasawuf di dunia Islam.

Selasa, 10 Februari 2015

ILMU ROGO SUKMO (OUT OF BODY EXPERIENCE)



ILMU ROGO SUKMO
(OUT OF BODY EXPERIENCE)

Karya                : Bob Peterson
Ukuran Buku   : 14,5  x  21 cm
Tebal                 : x + 106 Halaman


ROGO SUKMO yang dalam khazanah barat disebut Out of Body Experience (OBE) atau proyeksi astral merupakan fenomena spiritual yang masih sering diperdebatkan. Banyak pihak yang mendukungnya, namun tidak sedikit yang menolaknya. Para pendeta Tibet dan Yogi di India sudah sangat terbisaa melakukannya untuk mendapatkan informasi dari belahan dunia manapun. Sedangkan para ilmuwan masih sangat ragu terhadap keakuratan informasi yang didapat melalui OBE.
Dari buku ini terlihat bagaimana orang Barat memandang dan menyikapi suatu kemampuan adikodrati. Akan kita lihat bagaimana perbedaan kultur Barat dan kultur Timur (masyarakat Jawa) memperlakukan fenomena Out of Body Experience. Kultur masyarakat Jawa cenderung memandang “Ngelmu Ngracut” atau “Rogo Sukmo” sebagai cabang ilmu yang bersifat “Kasepuhan”. Orang yang ingin mempelajarinya disyaratkan terlebih dahulu suci lahir dan batin. Itu pun masih ditambah dengan rambu-rambu normative yang lebih bersifat membatasi penguasaan ilmu itu. Sebagai missal, kita sering mendengar para spiritualis Jawa menasihati, “BIla tidak kuat batinmu jangan mencoba mempelajari Ngelmu Ngracut, salah-salah kamu bisa gila.” Atau, “Ngelmu Ngracut hanya bisa dipelajari oleh orang yang batinnya sudah bersih, jujur, dan suci.”
Sementara orang Barat, sebagai suatu bangsa yang lebih mengedepankan rasionalitas, melihat realitas OBE sebagai suatu kemampuan adikodrati yang bisa dan boleh dipelajari siapa saja tanpa terkecuali. Di tangan para penulis Barat, OBE yang sangat “disakralkan” oleh orang Jawa menjadi lebih praktis dan pragmatis. Bagi orang Jawa, serat-serat yang berisi Ngelmu Ngracut sangat dihormati dan dirahasiakan sehingga tidak sembarang orang boleh membaca dan mempelajarinya. Karena itu untuk mempelajari Rogo Sukmo atau Ngelmu Ngracut sebagaimana isi buku ini, kita lebih mudah mendapatkan sumber dari barat ketimbang dari khazanah Jawa. Dalam hal ini dari karya Bob Peterson.
Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berisi catatan-catatan pengalaman Bob Peterson selama melakukan proyeksi astral dan bagian kedua berisi latihan-latihan yang direkomendasikan oleh Bob Peterson disertai trik-trik melakukan proyeksi astral dengan mudah

FARILUDDIN ATTAR DAN KISAH-KISAH HIKMAHNYA



FARILUDDIN ATTAR DAN KISAH-KISAH HIKMAHNYA

Karya                : Muhammad Zaairul Hagr
Ukuran Buku   : 14,5  x  21 cm
Tebal                 : viii + 172 Halaman


Darwis malang itu menjawab, “Pada hari ketika hamba jatuh cinta pada Tuanku Putri, hamba bercuci tangan dari kehidupan ini. Beribu-ribu yang seperti hamba mengorbankan diri ke haribaan keindahan Tuan. Karena para pengiring Tuan hendak membunuh hamba secara tak adil, maka jawablah kiranya pertanyaan yang bisaa ini. Pada hari ketika Tuan menjadi sebab bagi kematian hamba, mengapa Tuan tersenyum pada hamba?”
“O kau, si dungu, “kata putrid ini, “ketika kuketahui bahwa kau hendak merendahkan martabat dirimu sendiri, aku tersenyum karena kasihan. Aku sengaja tersenyum karena kasihan bukan karena hendak mencemooh.”
Berkata demikian, ia pun lenyap bagai seberkas asap, meninggalkan darwis itu termangu sendiri.

Kisah di atas adalah kisah “Putri Raja dengan Seorang Darwis” yang merupakan salah satu dari sekian banyak kisah darii puisi ‘Attar. Selama berabad-abad, karya puisi ‘Attar telah mampu memberikan kontribusi pengaruh sangat besar bagi para penempuh jalan ruhani, bagi para pencari pengetahuan mistik Barat maupun Timur, meskipun diakui bahwa karyanya kurang begitu dikenal secara luas di dunia Barat. Masyarakat Barat pada umumnya lebih mengenal Rumi daripada ‘Attar, karena sebagian besar karya Rumi telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya. Betapapun Rumi memiliki kebesaran namun, ia pernah berkata tentang pribadi ‘Attar ini, bahwa “semua yang telah aku katakana mengenai kebenaran, kupelajari dari ‘Attar.”