Tampilkan postingan dengan label Novel Puisi dan Bahasa Asing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Puisi dan Bahasa Asing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2015

100 KESALAHAN DALAM BELAJAR BAHASA INGGRIS



100 KESALAHAN DALAM BELAJAR BAHASA INGGRIS

Karya                 : Agung Prihantoro
Ukuran Buku    : 12 x19,5 cm
Tebal                  : xiv + 150 Halaman

Mhy is my English still poor? Mengapa kita masih saja menemui kesulitan dalam membaca teks dan mendengarkan percakapan dalam bahasa Inggris? Mengapa kita tak kunjung bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris dengan lancer padahal kita sudah mempelajarinya sejak SMP, bahkan sejak SD dan sudah lama ikut kursus? Para pakar English Language Teaching ELT mengatakan bahwa memang ada yang salah dalam pembelajaran bahasa Inggris di Nusantara ini dan juga di Negara-negara lain yang memakai bahasa Inggris, baik sebagai bahasa pertama maupun sebagai bahasa asing.

Lantas, di manakah letak kesalahannya? Mungkin terletak pada teori pengajaran bahasa Inggris, pada pendekatan pengajarannya, pada pelaksanaannya, pada guru, atau pada siswa atau mahasiswa (learner). Kitab ini coba menajwab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menunjukkan 100 kesalahan pokok yang kerap kali dilakukan oleh learner, yakni                      kesalahan-kesalahan dalam belajar reading, listening, speaking, writing,  dan translating.

100 kesalahan dalam Belajar Bahasa Inggris ditujukan terutama kepada Anda semua yang tengah atau telah mendaras bahasa Inggris. Buku ini dimaksudkan untuk membantu Anda mengevaluasi diri, dan menghindari kesalahan-kesalahan tadi serta memacu peningkatan kemampuan reading, listening, speaking, writing, dan translating Anda. Namun para guru dan tentor pun perlu membaca kitab ini demi menunjang pencapaian tujuan pengajaran bahasa Inggris secara lebih cepat dan optimal.

BOM SANG TERORIS: SEBUAH NOVEL SADURAN DARI KARYA ALBERT CAMUS



Kisah dalam novel ini dibuat oleh Albert Camus berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Rusia pada bulan Februari tahun 1905. Sebuah kisah tentang pergulatan batin para teroris yang begitu mendalam pada tokoh-tokohnya, sehingga kita bisa membandingkan tindakan terror yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam karya ini dengan kelompok teroris sekarang ini. Bahwa terror yang dilakukan oleh emreka yang dituturkan oleh Albert Camus dalam novel ini mempunyai sasaran yang terpilih, biasanya kalangan atas dan atau pemimpin politik atau kepala Negara. Sementara sekarang ini warga sipil pun telah dimasukkan dalam target penyerangan oleh kelompok dan Negara adidaya berperilaku teroris.
Pembaca akan menemukan pergulatan hebat di antara anggota teroris dalam novel ini ketika Kaliayev, salah satu tokoh yang diberi peran protagonist oleh pengarangnya menolak untuk melemparkan bom pada anak-anak. Di dalamnya Camus ingin menunjukkan bahwa tidak ada tindakan yang tanpa batas. Tindakan baru dikatakan adil dan benar kalau ia mengakui batasan-batasan, kalau melewatinya harus menerima kematian.
Dalam kisah ini, Camus juga memunculkan sebuah ironi. Dengan menarik, ia tunjukkan munculnya kontradiksi-kontradiksi dalam diri para teroris, justri ketika mereka bercita-cita hendak menghancurkan  segala kontradiksi yang ada di masyarakat. Dengan berbagai konflik yang mudah dicerna, pembaca disuguhi alur konflik yang mengantar sang tokoh ke tiang gantungan.
Novel ini sebenarnya adalah saduran dari drama karya Albert Camus yang berjudul “Les Justes” yang diterbitkan tahun 1947. Kami sengaja menyadurnya ke dalam bentuk novel dengan asumsi bahwa bentuk karya novel akan lebih memudahkan pembaca dalam karyanya ini. Selain juga kami beranggapan bahwa bentuk karya sastra drama belum begitu familiar untuk dikonsumsi public. Apakah memang benar seperti itu?

DESING KALBU (SEBUAH NOVEL)


DESING KALBU (SEBUAH NOVEL)
Karya: Musa Maliki
Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm


Bagi mereka yang tak mau gelisah dan resah, urungkanlah niat membaca novel ini. Berkawan dengan kerumitan hidup dan sengkarut pergaulan antar bangsa yang selalu membuat kita tak habis piker sama halnya dengan perjuangan tanpa medan perang, Amat melelahkan karena yang terkuras adalah daya batin.

Di zaman ini, heroism tak lagi berwujud angkat senjata mengincar musuh, tapi dijelmakan ke dalam usaha-usaha mengelola kegelisahan dan keresahan menjadi energi hidup demi menemukan jati diri. Itulah yang dilakukan Bayu, tokoh utama novel ini.