Tampilkan postingan dengan label Sains Ekonomi dan Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains Ekonomi dan Filsafat. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Mei 2017
POS MADILOG (POST MATERIALISME DIALEKTIKA DAN LOGIKA) Buku Baru
Tebal. : viii + 240
Ukuran Buku : 14.5 x 21 cm
Harga. : 50.000
Penulis. : Ki H. Ashad Kusuma Djaya
Buku ini saya rekomendasikan bisa menjadi buku pegangan bagi kajian filsafat ilmu di kampus-kampus di indonesia, melalui kajian post-materialisme, penulis mengajak memposisikan materi secara tepat dan bagaimana suatu sudut pandang terhadap perubahan yang seharusnya dijalankan. dalam kajian dialektika, penulis dengan cermat menguraikan tiga bentuk keterhubungan dialektis dan menolak pandangan dialektis yang hanya memberi ruang bagi pertemuan tesis, antitesis dan sintesis. sementara dalam kajian logika, penulis menguraikan beberapa konsep logika formal, logika kritis, dan logika integratif. sebagai kajian filfasat ilmu, buku ini pun melengkapinya dengan menyampaikan bahasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi post-madilog.
(dr suprojo tamtomo)
dalam konteks sekarang, pengembangan ilmu pengetahuan bukan sekedar mengubah alam berpikir tradisional menuju alam berpikir modern, sebagaimana berlangsung pada masa kehidupan tan malaka. salah satu akibat langsung dari globalisasi yang menimpa kehidupan sosial kita adalah munculnya tatanan sosial yang oleh giddens disebut sebagai post-tradisional. tatanan post-tradisional bukanlah tatanan yang tradisinya lenyap, tetapi merupakan tatanan yang tradisinya berubah status. tradisi harus menjelaskan dirinya sendiri, menjadi terbuka untuk diselidiki dan diwacanakan.
kajian post-madilog tidak sekedar melakukan lacak jejak sejarah keilmuan, namun menawarkan paradigma keilmuan berbasis pada pandangan hidup sistem yang selaras dengan dasar kehidupan kebangsaan kita. kemandegan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak adanya benang merah antara pengembangan ilmu pengetahuan dengan dasar-dasar kehidupan berbangsa kita menunjukkan ada yang harus dibenahi dalam kajian filsafat ilmu kita selama ini.
Rabu, 21 September 2016
Kesatuan Teologi dan Ilmu Pengetahuan
Penulis :John Polkinghorne
Tebal : xvi + 164 halaman.
Tebal : xvi + 164 halaman.
Ukuran Buku : 14,5 21 cm
Harga : Rp 40.000,-
Sebagai sosok seorang pendeta yang kepiawaiannya di bidang fisika dikagumi orang, Polkinghorne, tentunya mempunyai hipotesis bahwa postenlightment akan terjadi melalui bersatunya IPTEK dengan agama. Sebelum IPTEK muncul agama itulah yang dikenal oleh kaum pendeta dan kyai, meskipun mereka gagal memperlihatkan dalam hal apa agama bisa dipandang sebagai enlightment pada waktu ini. Karena itu dia berusaha memperlihatkan keniscayaan bagaimana mu’jizat
itu bisa terjadi.
Selanjutnya pada Bab II dan III Polkinghorne
berbicara mengenal the nature of science dan the nature of theology. Di Bab III dia
tidak langsung membahas hubungan atau interaksi itu, melainkan berbicara
mengenai the nature of the physical world. Pada Bab IV baru dia membahas
mengenai points of interaction. Pada Bab V dia mencoba mendemonstrasikan bahwa
kontradiksi itu akan lenyap atau melunak, kalau kita berhasil meningkatkan the
level of description, the higher meaning, atau dalam bahasa kaum sufi
meningkatkan maqam kesadaran.
Sabtu, 27 Agustus 2016
Sejarah Renaisans Eropa
Penulis : Alison Brown
Tebal : x + 298 halaman.
Tebal : x + 298 halaman.
Ukuran
Buku : 14,5 21 cm
Harga
: Rp 40.000,-
Sejarah kebudayaan modern, dengan segala
kelebihan dan kekurangannya bagi umat manusia dan kemanusiaan, berawal dari
kota-kota Italia dan Prancis selatan tahun 1300-an Masehi. Kota-kota ini tidak
berada di bawah otoritas raja, bangsawan maupun pihak gereja seperti
daerah-daerah lain di Eropa kala itu. Para warganya menyambut diri mereka
sebagai “komuni” otonom yang mampu mengatur diri sendiri.
Komuni-komuni ini berkelimpahan daya
imajinasi dan rasa ingin tahu karena kemaknuran yang ada pada mereka. Sejak
semula wilayah mereka adalah wilayah perdagangan, tempat para saudagar bertemu,
tawar menawar dan tentu saja bertukar gagasan dan informasi. Dalam
perjumpaan-perjumpaan ini, yang dipertaruhkan bukan hanya untung rugi
jual-beli, tapi juga gengsi dan nama baik.Persaingan yang terjadi di arena
kebudayaan untuk memperebutkan nama baik dan hak untuk dikenang sebagai
orang-orang berbudaya sama sengitnya dengan persaingan dalam mengejar keuntungan
perdagangan.
Para saudagar kaya dan bangsaawan
terhormat berburu naskah-naskah filsafat dan sastra peninggalan zaman Yahudi
dan Romawi, berlomba-lomba membangun bangunan dan patung-patung terindah,
memesan lukisan-lukisan dari seniman terbaik yang ada, dan mengupayakan dunia
pendidikan yang mampu menghidupkan kembali kejayaan Yunani dan Romawi.
Buah dari semua itu terbukti jelas dalam
kekaguman zaman sekarang ketika menikmati keindahan dan keagungan peninggalan
masa keemasan komuni-komuni itu; sebuah masa yang lebih dikenal sebagai Masa
Renaisans.
Selasa, 10 Februari 2015
INVESTASI SYARI’AH IMPLEMENTASI KONSEP PADA KENYATAAN EMPIRIK
INVESTASI SYARI’AH
IMPLEMENTASI KONSEP PADA KENYATAAN EMPIRIK
Karya
: Josmailani (ed).
Ukuran
Buku : 14,5 x 21 cm
Tebal
: xviii + 466 Halaman
FAKTOR utama yang membedakan antara
ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam adalah bahwa dalam ekonomi Islam
semua tindakan, kegiatan, kebijakan, strategi dan interaksi dalam perekonomian
tidak berakhir dengan untung atau rugi di dunia, tetapi dibawa sampai pada hari
akhir Rasulullah SAW yang bersabda, “Jika hari kiamat tiba dan seorang
diantaramu masih ada yang memegang tanaman (bibit sebuah pohon), maka
tanamkanlah” (H.R. Ahmad). Berpijak dari itu, Islam pada dasarnya sangat
mendorong investasi dan mengakui adanya hubungan yang erat antara investasi dan
pertumbuhan ekonomi terutama karena bekerjanya efek pengganda (multiplier).
Dalam praktiknya, pertumbuhan tersebut harus digunakan untuk peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
Hal yang menonjol lainnya dalam Islam
adalah bahwa dana harus dinamik, artinya menyimpan dana sehingga menjadi tidak
produktif adalah sesuatu yang dilarang. Zakat dapat diumpamakan sebagai
“penalty” dari menyimpan kekayaan, sehingga dengan zakat, paling tidak 2,5%
dari kekayaan tadi harus kembali ke masyarakat. Jika semua orang membayar
zakat, maka manfaatnya masih akan lebih kecil dibanding dengan jika si wajib
zakat tadi melakukan investasi, karena jumlah penerima zakat yang dapat dibantu
pasti lebih sedikit disbanding jumlah tenaga kerja yang dapat diserap jika uang
tadi diinvestasikan dalam sektor riil.
Langganan:
Postingan (Atom)
