Tampilkan postingan dengan label Humor Kebijakan dan Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Kebijakan dan Nasehat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2015

ABU NAWAS DAN KUSIR KELEDAI





Karya                 : Yusuf Abdussalam
Ukuran Buku    : 12 x19,5 cm
Tebal                  : viii + 132 Halaman

Mengembangkan kecerdasan spiritual dan emosional, itulah tujuan dari penulisan buku ini. Selama dalam opini masyarakat kita, kecerdasan selalu, peningkatan hal-hal “serius”. Karena itu, orang cenderung menyerahkan tugas-tugas pencerdasan pada lembaga-lembaga serius, dan memandang humor hanyalah sekedar varian dan hiburan semata.

Padahal, jika memang kecerdasan (baik spiritual maupun emosional) bertumpu pada kebijaksanaan hidup, maka seseorang tidak dapat meraih puncaknya hanya dengan berbekal dengan pikiran formalis. Bila mau belajar dari gagasan kecerdasan yang dikembangkan kaum sufi, seseorang harus terus menerus mangasah rasa yang berdimensi emosional maupun spiritual. Karena memang sebenarnya proses pengembangan kecerdasan tersebut tidak lain aalah pendakian emosional dan spiritual menuju puncak kemanusiaan, yaitu maqam yang disebut insane kamil.

Dalam kaitan dengan pendakian menuju insane kamil, humor memiliki tingkat fleksibilitasnya yang cukup tinggi bila dibandingkan sarana pendidikan lainnya. Tanpa rasa digurui, para pendaki diantarkan pada sebuah kebenaran yang lebih tinggi dari kebenaran formal. Humor mengajak seseorang menebus ego masing-masing untuk mengantarkan pada kearifan tertinggi.

Rabu, 03 September 2014

Abu Wardah Sahabat Abu Nawas

ABU WARDAH SAHABAT ABU NAWAS
Karya      : Ibu Sahid as-Sundy
Ukuran Buku     : 14,5 x 21 cm
Tebal     : xii + 224  Halaman
Harga    : 19.500,-


Persahabatan Abu Nawas-Abu Wardah tidak secara khusus dibicarakan dalam buku ini, karena memang buku ini lebih mengkhususkan berbicara tentang polah tingkah Abu Wardah yang telah berubah cerdas akibat persahabatan itu. Pembaca perlu memahami konteks penulisan buku ini yang ingin menunjukkan hikmah suatu persahabatan. Bahwa, sangat penting seseorang baik anak-anak, dewasa, maupun orang tua, untuk mengambil sahabat yang mampu melahirkan perbaikan-perbaikan diri. Mereka yang bisa mengambil sahabat seperti itu, akan berubah menjadi lebih baik karena pengaruh sang sahabat sebagaimana berubahnya Abu Wardah karena pengaruh Abu Nawas.
Masyarakat industry membangun persahabatan manusia menjadi suatu hubungan fungsional kerja dan melunturkan hubungan emosional antar sesama manusia. Mereka bertemu dan bersahabat lebih karena butuh saling bantu dalam menghadapi roblematika dunia kerja yang melilitnya. Para mahasiswa butuh teman karena ia perlu pinjam catatan atau berhubungan dengan sesamanya untuk bisa menyelesaikan tugas kuliah dan laboratorium. Komunitas terbayang paling dekat dengan mereka yang pada awalnya berbasis keluarga dan lokalitas tanah ingin diubah basisnya, yaitu dunia kerja. Maka struktur masyarakat yang dicita-citakan adalah suatu bentuk yang sedemikian rapi untuk keperluan praktis kemjuan industri. Dalam masyarakat seperti itu tersembunyi suatu asumsi bahwa manusia tak ada bedanya dengan robot penggerak mesin-mesin industri. Maka tak bisa ditolak, berbagai penyakit sosial yang merupakan efek samping dari industrialisasi terus merajalela.
Menolak industrialisasi, sekarang ini jelas merupakan mimpi. Menghadapi gelombang hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dan keterasingan manusia dengan sekitarnya, kita bisa memulainya dari membangkitkan semangat persahabatan di antara anak-anak, saudara, dan kita sendiri. Semangat untuk mau saling belajar dan mau saling berbagi suka-duka harus kita tanamkan sejak dini. Dan tampaknya, untuk keperluan itulah buku ini penting hadir di hadapan pembaca sekalian.

Kamis, 07 Agustus 2014

Abu Nawas dan Abu Wardah

Abu Nawas dan Abu Wardah
Kisah-Kisah Jenaka dan Mutiara Kebijaksanaan,
Karya: Ashad Kusuma Djaya
Harga: Rp 19.500,-

Mengembangkan kecerdasan spiritual dan emosional, itulah tujuan dari penulisan buku ini. Selama ini dalam opini masyarakat kita, kecerdasan selalu identik dengan hal-hal "serius".  Karena itu, orang cenderung menyerahkan tugas-tugas pencerdasan pada lembaga-lembaga serius, dan memandang humor hanyalah sekedar varian dari hiburan semata.

Padahal, jika memang kecerdasan (baik spiritual maupun emosional) bertumpu pada kebijaksanaan hidup, maka seseorang tidak bisa meraih puncaknya hanya dengan bekal pikiran formalis. Bila mau belajar dari gagasan kecerdasan yang dikembangkan kaum sufi, seseorang harus terus menerus mengasah rasa yang berdimensi emosional dan juga spiritual. Karena memang sebenarnya proses pengembangan kecerdasan tersebut tidak lain adalah pendakian emosional dan spiritual menuju puncak kemanusiaan, yaitu maqam yang biasa di sebut dengan insan kamil.

Dalam kaitan dengan pendakian menuju insan kamil, humor memiliki tingkat fleksibilitas yang cukup tinggi bila dibandingkan dengar sarana pendidikan lainnya. Tanpa rasa digurui, para pendaki diantarkan pada sebuah kebenaran yang lebih tinggi dari kebenaran formal. Humor mengajak seseorang menembus ego masing-masing untuk mengantarkannya pada kearifan tertinggi.