Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah:
Menggerakkan Dakwah Akar Rumput Di Era Industri Lanjut
karya H. Ashad Kusuma Djaya
Pengantar DR H Haedar Nashir, M.Si. (Ketua Pimpunan Pusat Muhammadiyah)
Prolog DR Syarifuddin Jurdi, M.Si. (Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Cabang & Ranting PP Muhammadiyah)
Tebal: xxxii + 152 halamanUkuran: 14,5 x 21 CM
Harga Rp 37.500,-
Dalam
keseluruhan hal itulah, buku Ashad Kusuma Djaya ini menjadi sangat penting dan
strategis bagi proses penjabaran gagasan GJDJ yang telah lama dirumuskan,
melalui buku ini, Ashad menawarkan bagaimana pembentukan, pemetaan dan
pembinaan umat yang dikelompokkan berdasarkan kecendrungan jama’ahnya, bisa
membentuk jama’ah berdasarkan hobi; Jamaah berdasar profesi; Jamaah berdasar
kewilayahan; Jamaah terkait Pengajian/ideologi (DR Syarifuddin Jurdi).
Kamis, 03 September 2015
Mitologi (Cetak Ulang)
Judul : Mitologi
Penulis : Roland Barthes
Penerjemah : Nurhadi & A Sihabul Millah
Tebal buku : xiii + 244 halaman
Rp 55.000
Buku ini merupakan karya terpenting Roland Barthes tentang konsep mitologinya. Bahasa lugas, puitis, ringan, dan sederhana menjadi ciri khas sosok semiotikus Roland Barthes. Bahasan-bahasan yang diangkat Barthes dalam buku ini merupakan hasil aplikasi semiologi dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah tulisan yang sangat berharga bagi dunia semiologi. Oleh karena itu, buku ini cocok dibaca siapa pun khususnya mahasiswa. Akhirnya, hidup di dunia ini tidak hanya berwarna satu, tetapi banyak warna yang harus kita bedah dan tafsiri. Semoga dengan hadirnya mitologi Roland Barthes di tengah-tengah kita, mampu menambah wawasan kita dalam mengurai sekian makna yang belum terungkap. Selamat membaca!
Rujukan lain:
http://cabiklunik.blogspot.com/2007/03/buku-belajar-membedah-mitos.html
Penulis : Roland Barthes
Penerjemah : Nurhadi & A Sihabul Millah
Tebal buku : xiii + 244 halaman
Rp 55.000
Buku ini merupakan karya terpenting Roland Barthes tentang konsep mitologinya. Bahasa lugas, puitis, ringan, dan sederhana menjadi ciri khas sosok semiotikus Roland Barthes. Bahasan-bahasan yang diangkat Barthes dalam buku ini merupakan hasil aplikasi semiologi dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah tulisan yang sangat berharga bagi dunia semiologi. Oleh karena itu, buku ini cocok dibaca siapa pun khususnya mahasiswa. Akhirnya, hidup di dunia ini tidak hanya berwarna satu, tetapi banyak warna yang harus kita bedah dan tafsiri. Semoga dengan hadirnya mitologi Roland Barthes di tengah-tengah kita, mampu menambah wawasan kita dalam mengurai sekian makna yang belum terungkap. Selamat membaca!
Rujukan lain:
http://cabiklunik.blogspot.com/2007/03/buku-belajar-membedah-mitos.html
Minggu, 16 Agustus 2015
MASYARAKAT RISIKO: Menuju Modernitas Baru
Karya: Ulrich Beck
Ukuran: 15,5 x 24 cm
Tebal: xxx+346 Halaman
Harga: Rp 85.000,-

Kita sedang mengalami suatu transformasi fondasi perubahan. Akan tetapi, untuk memahami hal ini citra masyarakat industri hendaknya direvisi. Menurut cetak birunya ia adalah masyarakat semi-modern, dengan unsur kontra-modernnya yang tetap bukan sesuatu yang lama atau tradisional melainkan lebih tepatnya adalah konstruk dan produk zaman industri itu sendiri. Konsep masyarakat industri bersandar pada suatu kontradiksi di antara prinsip-prinsip universal modernitas—hak-hak sipil, kesetaraan, diferensiasi fungsional, metode argumentasi dan skeptisisme—dan struktur eksklusif lembaganya, di mana prinsip-prinsip ini hanya dapat diwujudkan secara parsial, sektoral, dan selektif. Konsekuensinya ialah masyarakat industri mendestabilisasi dirinya sendiri justru melalui pembentukannya. Kontinuitas menjadi ‘sebab’ diskontinuitas. Manusia dibebaskan dari kepastian-kepastian dan cara-cara hidup zaman industrial. Goncangan-goncangan yang ditimbulkan ini membentuk sisi lain dari masyarakat risiko. Sistem koordinat yang mempercepat kehidupan dan pemikiran dalam modernitas industrial—sumbu gender, keluarga, dan pekerjaan, kepercayaan pada sains dan kemajuan—mulai bergoncang, terjadilah senjakala baru peluang dan bahaya—kontur masyarakat risiko. Peluang? Dalam masyarakat risiko prinsip modernitas diselamatkan dari pemisahan dan batas-batasnya dalam masyarakat industri.
Pada tingkat tertentu, buku ini memuat teori sosial proyektif, yang berorientasi empiris—tanpa usaha perlindungan metodologis. Hal itu didasarkan pada penilaian bahwa kita adalah saksi-mata—sebagai subjek dan objek—atas suatu keretakan di dalam modernitas, yang sedang membebaskan diri dari kontur-kontur masyarakat industri klasik dan sedang menempa bentuk baru—‘masyarakat risiko’ (industrial). Dalam banyak hal buku ini mencerminkan penemuan dan proses belajar pengarangnya. Hal ini menekankan watak proses dari argumentasi bukunya dan jangan dipahami sebagai cek kosong untuk menghadapi berbagai keberatan. Hal itu menawarkan keuntungan bagi para pembaca karena dapat membaca bab-bab secara terpisah atau dengan urutan yang berbeda, dan memikirkannya dalam-dalam beserta ajakan yang sadar untuk menggunakan, menentang, dan melengkapi argumen-argumen tersebut.
Ukuran: 15,5 x 24 cm
Tebal: xxx+346 Halaman
Harga: Rp 85.000,-

Kita sedang mengalami suatu transformasi fondasi perubahan. Akan tetapi, untuk memahami hal ini citra masyarakat industri hendaknya direvisi. Menurut cetak birunya ia adalah masyarakat semi-modern, dengan unsur kontra-modernnya yang tetap bukan sesuatu yang lama atau tradisional melainkan lebih tepatnya adalah konstruk dan produk zaman industri itu sendiri. Konsep masyarakat industri bersandar pada suatu kontradiksi di antara prinsip-prinsip universal modernitas—hak-hak sipil, kesetaraan, diferensiasi fungsional, metode argumentasi dan skeptisisme—dan struktur eksklusif lembaganya, di mana prinsip-prinsip ini hanya dapat diwujudkan secara parsial, sektoral, dan selektif. Konsekuensinya ialah masyarakat industri mendestabilisasi dirinya sendiri justru melalui pembentukannya. Kontinuitas menjadi ‘sebab’ diskontinuitas. Manusia dibebaskan dari kepastian-kepastian dan cara-cara hidup zaman industrial. Goncangan-goncangan yang ditimbulkan ini membentuk sisi lain dari masyarakat risiko. Sistem koordinat yang mempercepat kehidupan dan pemikiran dalam modernitas industrial—sumbu gender, keluarga, dan pekerjaan, kepercayaan pada sains dan kemajuan—mulai bergoncang, terjadilah senjakala baru peluang dan bahaya—kontur masyarakat risiko. Peluang? Dalam masyarakat risiko prinsip modernitas diselamatkan dari pemisahan dan batas-batasnya dalam masyarakat industri.
Pada tingkat tertentu, buku ini memuat teori sosial proyektif, yang berorientasi empiris—tanpa usaha perlindungan metodologis. Hal itu didasarkan pada penilaian bahwa kita adalah saksi-mata—sebagai subjek dan objek—atas suatu keretakan di dalam modernitas, yang sedang membebaskan diri dari kontur-kontur masyarakat industri klasik dan sedang menempa bentuk baru—‘masyarakat risiko’ (industrial). Dalam banyak hal buku ini mencerminkan penemuan dan proses belajar pengarangnya. Hal ini menekankan watak proses dari argumentasi bukunya dan jangan dipahami sebagai cek kosong untuk menghadapi berbagai keberatan. Hal itu menawarkan keuntungan bagi para pembaca karena dapat membaca bab-bab secara terpisah atau dengan urutan yang berbeda, dan memikirkannya dalam-dalam beserta ajakan yang sadar untuk menggunakan, menentang, dan melengkapi argumen-argumen tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)

