Judul : Mitologi
Penulis : Roland Barthes
Penerjemah : Nurhadi & A Sihabul Millah
Tebal buku : xiii + 244 halaman
Rp 55.000
Buku ini merupakan karya terpenting Roland Barthes tentang konsep
mitologinya. Bahasa lugas, puitis, ringan, dan sederhana menjadi ciri
khas sosok semiotikus Roland Barthes. Bahasan-bahasan yang diangkat
Barthes dalam buku ini merupakan hasil aplikasi semiologi dalam
kehidupan sehari-hari. Sebuah tulisan yang sangat berharga bagi dunia
semiologi. Oleh karena itu, buku ini cocok dibaca siapa pun khususnya
mahasiswa. Akhirnya, hidup di dunia ini tidak hanya berwarna satu,
tetapi banyak warna yang harus kita bedah dan tafsiri. Semoga dengan
hadirnya mitologi Roland Barthes di tengah-tengah kita, mampu menambah
wawasan kita dalam mengurai sekian makna yang belum terungkap. Selamat
membaca!
Rujukan lain:
http://cabiklunik.blogspot.com/2007/03/buku-belajar-membedah-mitos.html
Kamis, 03 September 2015
Minggu, 16 Agustus 2015
MASYARAKAT RISIKO: Menuju Modernitas Baru
Karya: Ulrich Beck
Ukuran: 15,5 x 24 cm
Tebal: xxx+346 Halaman
Harga: Rp 85.000,-

Kita sedang mengalami suatu transformasi fondasi perubahan. Akan tetapi, untuk memahami hal ini citra masyarakat industri hendaknya direvisi. Menurut cetak birunya ia adalah masyarakat semi-modern, dengan unsur kontra-modernnya yang tetap bukan sesuatu yang lama atau tradisional melainkan lebih tepatnya adalah konstruk dan produk zaman industri itu sendiri. Konsep masyarakat industri bersandar pada suatu kontradiksi di antara prinsip-prinsip universal modernitas—hak-hak sipil, kesetaraan, diferensiasi fungsional, metode argumentasi dan skeptisisme—dan struktur eksklusif lembaganya, di mana prinsip-prinsip ini hanya dapat diwujudkan secara parsial, sektoral, dan selektif. Konsekuensinya ialah masyarakat industri mendestabilisasi dirinya sendiri justru melalui pembentukannya. Kontinuitas menjadi ‘sebab’ diskontinuitas. Manusia dibebaskan dari kepastian-kepastian dan cara-cara hidup zaman industrial. Goncangan-goncangan yang ditimbulkan ini membentuk sisi lain dari masyarakat risiko. Sistem koordinat yang mempercepat kehidupan dan pemikiran dalam modernitas industrial—sumbu gender, keluarga, dan pekerjaan, kepercayaan pada sains dan kemajuan—mulai bergoncang, terjadilah senjakala baru peluang dan bahaya—kontur masyarakat risiko. Peluang? Dalam masyarakat risiko prinsip modernitas diselamatkan dari pemisahan dan batas-batasnya dalam masyarakat industri.
Pada tingkat tertentu, buku ini memuat teori sosial proyektif, yang berorientasi empiris—tanpa usaha perlindungan metodologis. Hal itu didasarkan pada penilaian bahwa kita adalah saksi-mata—sebagai subjek dan objek—atas suatu keretakan di dalam modernitas, yang sedang membebaskan diri dari kontur-kontur masyarakat industri klasik dan sedang menempa bentuk baru—‘masyarakat risiko’ (industrial). Dalam banyak hal buku ini mencerminkan penemuan dan proses belajar pengarangnya. Hal ini menekankan watak proses dari argumentasi bukunya dan jangan dipahami sebagai cek kosong untuk menghadapi berbagai keberatan. Hal itu menawarkan keuntungan bagi para pembaca karena dapat membaca bab-bab secara terpisah atau dengan urutan yang berbeda, dan memikirkannya dalam-dalam beserta ajakan yang sadar untuk menggunakan, menentang, dan melengkapi argumen-argumen tersebut.
Ukuran: 15,5 x 24 cm
Tebal: xxx+346 Halaman
Harga: Rp 85.000,-

Kita sedang mengalami suatu transformasi fondasi perubahan. Akan tetapi, untuk memahami hal ini citra masyarakat industri hendaknya direvisi. Menurut cetak birunya ia adalah masyarakat semi-modern, dengan unsur kontra-modernnya yang tetap bukan sesuatu yang lama atau tradisional melainkan lebih tepatnya adalah konstruk dan produk zaman industri itu sendiri. Konsep masyarakat industri bersandar pada suatu kontradiksi di antara prinsip-prinsip universal modernitas—hak-hak sipil, kesetaraan, diferensiasi fungsional, metode argumentasi dan skeptisisme—dan struktur eksklusif lembaganya, di mana prinsip-prinsip ini hanya dapat diwujudkan secara parsial, sektoral, dan selektif. Konsekuensinya ialah masyarakat industri mendestabilisasi dirinya sendiri justru melalui pembentukannya. Kontinuitas menjadi ‘sebab’ diskontinuitas. Manusia dibebaskan dari kepastian-kepastian dan cara-cara hidup zaman industrial. Goncangan-goncangan yang ditimbulkan ini membentuk sisi lain dari masyarakat risiko. Sistem koordinat yang mempercepat kehidupan dan pemikiran dalam modernitas industrial—sumbu gender, keluarga, dan pekerjaan, kepercayaan pada sains dan kemajuan—mulai bergoncang, terjadilah senjakala baru peluang dan bahaya—kontur masyarakat risiko. Peluang? Dalam masyarakat risiko prinsip modernitas diselamatkan dari pemisahan dan batas-batasnya dalam masyarakat industri.
Pada tingkat tertentu, buku ini memuat teori sosial proyektif, yang berorientasi empiris—tanpa usaha perlindungan metodologis. Hal itu didasarkan pada penilaian bahwa kita adalah saksi-mata—sebagai subjek dan objek—atas suatu keretakan di dalam modernitas, yang sedang membebaskan diri dari kontur-kontur masyarakat industri klasik dan sedang menempa bentuk baru—‘masyarakat risiko’ (industrial). Dalam banyak hal buku ini mencerminkan penemuan dan proses belajar pengarangnya. Hal ini menekankan watak proses dari argumentasi bukunya dan jangan dipahami sebagai cek kosong untuk menghadapi berbagai keberatan. Hal itu menawarkan keuntungan bagi para pembaca karena dapat membaca bab-bab secara terpisah atau dengan urutan yang berbeda, dan memikirkannya dalam-dalam beserta ajakan yang sadar untuk menggunakan, menentang, dan melengkapi argumen-argumen tersebut.
ETNOMETODOLOGI dalam Ilmu Sosial
Karya George Ritzer
Buku ini adalah rekaman atas kuliah yang
dilakukan oleh George Ritzer yang disampaikan pada para mahasiswa yang tengah
mengkaji teori sosiologi. Di dalam buku ini Ritzer berbicara tentang
etnometodologi sebagai satu jenis teori sosiologi. Dalam kacamata Ritzer
etnometodologi menjadi studi tentang praktik sehari-hari yang digunakan anggota
masyarakat biasa dalam menjalani kehidupan keseharian mereka. Orang dipandang
menjalankan kehidupan sehari-hari mereka melalui berbagai praktik secara
cerdas.
Dalam kerangka penelitian kualitatif, etnometodologi
diposisikan sebagai sebuah landasan teoritis bagi metode tersebut.
Etnometodologi sebagai sebuah studi pada dunia subjektif, tentang kesadaran,
persepsi dan tindakan individu dalam interaksinya dengan dunia sosial yang
ditempatinya sesuai dengan pokok penelitian kualitatif yang juga menekankan
pada dunia subjektif dengan setting sosial dimana ia terlibat didalamnya. Pada
kenyataannya etnometodologi ini merupakan kajian yang selalu memiliki peminat
dalam studi ilmu sosial, meski ia skeptis terhadap setiap defenisi mengenai
dunia sosial yang dibuat oleh sosiologi. Etnometodologi membebaskan setiap
situasi untuk mendefenisikan dirinya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)

